Thursday, 23 May 2013

AKTIVITAS RESPONS IMUN SPESIFIK


Aktivasi sistem imun spesifik memerlukan partisipasi kelompok sel yang disebut sebagai antigen presenting cell (APC), diantaranya sel makrofag, sel dendritik, sel langerhans, dan sel limfosit B. Tahap paling awal aktivasi sistem imun adalah fagositosis/internalisasi antigen oleh sel APC, dilanjutkan dengan proses proteolisis menghasilkan peptida dengan 8-14 asam amino. Antigen yang sudah diolah ini selanjutnya digabungkan dengan protein khusus yang disebut MHC (mayor histocompatibility complex). Kompleks antigen MHC ditampilkan di permukaan sel APC untuk kemudian ditangkap oleh reseptor sel T (CD4) (Gunawan, 2009)
Sel T Helper (CD4) yang teraktivasi akan memproduksi berbagai sitokin, terutama interleukin-2 yang berperan mengaktifkan sel T Helper 1 dan sel T Helper 2. TH1 menghasilkan interferon gamma (IFN-γ), IL-2, dan tumor necrosis factor β (TNF β), yang nantinya akan mengaktifkan sel T sitotoksik (CD8), makrofag, dan sel natural killer (NK) untuk respon imunitas seluler. Sedangkan sel. TH2 menghasilkan IL-4,5,6, dan 10 yang nantinya mengaktifkan sel B menjadi sel plasma penghasil antibodi (gunawan 2009).
Sebagian sel B dan sel T yang sudah teraktivasi akan disimpan sebagai sel memori yang nantinya dikerahkan untuk respons sekunder. Respons terhadap antigen ekstrasel terjadi melalui kerja TH2 yang berakhir pada pembentukan antibodi netralisasi. Sebaliknya respon terhadap organisme intasel seperti mikobakterium berkaitan dengan TH1 yang berakhir pada aktivasi sel makrofag. Sel T sitotoksik mengenal peptida yang disajikan oleh sel-sel yang terinfeksi virus. Sel NK dapat mengenal dan menghancurkan sel-sel tumor dan sel-sel yang terinfeksi (Gunawan, 2009).
            Dua jenis sel darah putih yang memegang peranan penting dalam sistem imunitas adalah magrofa dan limfosit. Respon inmun terhadap suatu antigen dimulai pertama-tama dengan penyerapannya oleh magrofa, yang kemudian menyajikan antigen tersebut kepada limfosit. Seperti diketahui limfosit terdiri dari dua jenis, yakni T-cell dan B-cell (Tan dan Kirana, 2002)
Tujuan akhir dari dua imunitas yang secara artifisial dapat ditimbulkan dengan jalan vaksinasi adalah untuk menciptakan perlindungan dari tubuh terhadap antigen atau terhadap mikroba yang membawanya. (Tan dan Kirana, 2002)
  1. Imunitas aktif
Kekebalan aktif diperoleh sebagai akibat dari infeksi dengan kuman patogen, atau dapat juga secara buatan melalui penyuntikan dengan kuman patogen yang telah mati, dilemahkan atau dengan produk metabolismenya. Untuk imunisasi aktif ini digunakan vaksin (cacar, kolera, pertusis, pes, tbc, rabies, influenza, dan polio). Begitu pula toksoid ( difteri dan tetanus), yakni toksin kuman yang dibuat tidak toksik lagi dengan jalan manipulasi kimiawi. Tujuan pemberian vaksin adalah merangsang imunitas selular maupun imunitas humoral seperti yang layaknya timbul sebagai reaksi terhadap suatu infeksi alami (Tan dan Kirana, 2002)
Antibodies ( imunoglobulin) yang dibentuk oleh tubuh pada imunisasi aktif diekskresikan lebih lambat dari pada antibodi yang diberikan dari luar sebagai serum  (imunisasi pasif). Dengan demikian imunisasi aktif terutama digunakan bila dikehendaki kekebalan yang lama terhadap suatu penyakit.  Lazimnya imunitas ini berlansung selama beberapa bulan sampai beberapa tahun dan dapat ditimbulkan kembali dengan penyuntikan ulang (booster). Tujuan injeksi booster atau revaksinasi pertama, yang diberi paling lambat setelah 6 bulan serentetan injeksi primer, adalah untuk memperkuat imunitas yang semula yang telah ditimbulkan. Injeksi primer dan revaksinasi  pertama disebut imunisasi dasar. (Tan dan Kirana, 2002)
  1. Imunisasi pasif
Antisera, imunosera atau singkatnya sera adalah sera hewan yang mengandung antibodi spesifik dalam kadar tinggi. Anti sera diperoleh dari suatu penyuntikan antigen tertentu kedalam jaringan seekor hewan (imunitas aktif), yang kemudian membentuk antibodi. Kemudian serum dengan antibodi tersebut dipisahkan dan disuntikkan kedalam tubuh hewan lain atau manusia, yang menimbulkan kekebalan pasif terhadap penyakit tersebut.  Cara ini dinamakan imunisasi pasif. (Tan dan Kirana, 2002)
Fungsinya adalah menghindari penyebaran hama infeksi dan pembiakan dalam jaringan. Umumnya sera anti bakterial memiliki khasiat terapi yang rendah sekali. Sebaliknya sera terhadap infeksi virus memiliki khasiat yang tinggi bila diberikan pada permukaan masa inkubasi. Efeknya kecil sekali atau tidak ada bila diberikan setelah penyakitnya sudah berjangkit (Tan dan Kirana, 2002)
Imunitas yang diperoleh dengan imunisasi pasif ini selalu bertahan agak singkat, biasanya hanya beberapa minggu sampai beberapa bulan. Penggunaan pada keadaan akut, misalnya bila infeksi sudah terjadi, maka imunisasi aktif sudah tidak dapat digunakan dengan efektif. Penyebabnya ialah masa inkubasi suatu infeksi berlansung antara 2-5 hari, sedangkan pembentukan antibodi dalam tubuh umumnya membutuhkan waktu beberapa minggu. Pengecualiaan adalah pada rabies dengan tunas yang panjang ( serum anti-rabies)  (Tan dan Kirana, 2002).
Tipe imunitas seseorang berbeda-beda, kemampuan tubuh terhadap penyakit bisa dipengaruhi secara alami maupun dapatan. Faktor alami yang mempengaruhi antara lain spesies, ras, keturunan atau faktor individu. Imunitas dapatan dapat diperoleh secara alami yang diperoleh akibat serangan infeksi, penyakit yang kemudian menghasilkan imunitas aktif atau imunitas pasif. Imunitas dapatan yang aktif diberikan antigen secara injeksi seperti toksin, bakteri dan beberapa bahan lainnya. Penggunaan imunitas yang tepat dapat mengurangi penyakit, namun penggunaan imunitas yng umum dapat menyebabkan resistensi (Karsner, 1921).
HISTAMIN
Alergi, istilah ini disebut juga hipersensitifitas, yang menggambarkan reaktivitas khusus dari tuan rumah terhadap suatu unsur eksogen, yang timbul pada kontak keduakali atau berikutnya. Reaksi hipersensitivitas ini meliputi sejumlah peristiwa autoimun dan alergi eksogen atas dasar proses imunologi. Pada hakekatnya proses imunologi tersebut, walaupun bersifat merusak, berfungsi melindungi organisme terhadap zat – zat asing yang menyerang tubuh (Tan dan Kirana, 2008).
Bila suatu protein asing (antigen) masuk berulang kali ke dalam aliran darah seseorang yang berbakat hipersensitivitas tinggi, maka limfosit-B akan membentuk antibodi dari tipe IgE. IgE ini , yang juga disebut Reagin , mengikat diri pada membran mast-cells tanpa menimbulkan gejala (Tan dan Kirana, 2008).
PEMBAGIAN HISTAMIN
Pembagian histamin atas 2, diantaranya :
1.      Histamine Endogen
           Histamin berperan penting dalam fenomena fisiologis dan patologis terutama pada anafilaksis, alergi, trauma dan syok. Selain itu terdapat bukti bahwa histamine merupakan mediator terakhir dalam respon sekresi cairan lambung; histamine juga mungkin berperan dalam regulasi mikrosirkulasi dan dalam fungsi SSP (Neal,2006).
           Histamin terdapat pada hewan antara lain pada bisa ular, zat beracun, bakteri dan tanaman. Hampir semua jaringan mamalia mengandung precursor histamine. Kadar histamine paling tinggi ditemukan pada kulit, mukosa usus, dan paru-paru (Neal,2006).
           Histamine asal makanan atau yang dibentuk bakteri usus bukan merupakan sumber histamine endogen karena sebagian besar histamine ini dimetabolisme di dalam hati, paru-paru serta jaringan lain dan dikeluarkan melalui urin. Enzim penting untuk sintesis histamine adalah L-histidin dekarboksilase. Depot utama histamin ialah mast cell dan juga basofil dalam darah (Neal,2006).
2.      Histamine Eksogen
           Histamine eksogen bersumber dari daging, dan bakteri dalam lumen usus atau kolon yang membentuk histamine dari histidin. Sebagian histamine diserap kemudian sebagian besar akan dihancurkan dalam hati, sedangkan sebagian kecil masih ditemukan dalam arteri tetapi jumlahnya terlalu rendah untuk merangsang sekresi lambung. Pada pasien sirosis hepatis, kadar histamine dalam darah arteri akan meningkat setelah makan daging, sehingga meningkatkan kemungkinan terjadinya tukak peptik (Neal,2006).
Histamine diserap secara baik setelah pemberian SC atau IM. Efeknya tidak ada karena histamine cepat dimetabolisme dan mengalami difusi ke jaringan. Histamine yang diberikan oral tidak efektif karena diubah oleh bakteri usus menjadi N-asetil-histamin yang diserapkan diinaktivasi dalam dinding usus atau hati (Neal,2006).
           Pada manusia ada dua jalan utama dalam metabolisme histamine, yaitu: (1) metilasi oleh histamine-N-metiltransferase menjadi N-metilhistamin; N-metilhistamin oleh MAO diubah menjadi asam N-metil imidazol asetat; (2) deaminasi oleh histamine atau diaminoksidase yang non-spesifik menjadi asam imidazol asetat dan mungkin juga dalam bentuk konjugasinya dengan ribose. Metabolit yang terbentuk akan dieksresikan dalam urin (Neal,2006).
            IgE merupakan kelas utama antibodi reaginik. Pada pasien alergi kadar antibodi spesifik bisa meningkat sampai 100 kali lebih banyak daripada normal. Terikatnya bagian Fc antibodi dengan reseptor pada sel mast, diikuti oleh ikatan silang molekul yang berdekatan oleh antigen, memicu degranulasi oleh suatu mekanisme yang melibatkan influks Ca2+ (Neal,2006).
            Sel mast berisi simpanan histamin tubuh dan terdapat pada hampir seluruh jaringan. Dalam sel mast, histamin berikatan dengan heparin pada granula sitoplasma. Secara normal pelepasan histamin melibatkan influks ion Ca2+ dan karena permiabilitas membran sel terhadap ion Ca2+ berkurang ketika kadar adenosin monophosphat siklik (cAMP) intreseluler meningkat, obat-obat yang menstimulasi sintesis cAMP (agonis adrenoseptor β2 mengurangi pelepasan histamin) (Neal,2006).
Histamin memegang peranan utama pada proses peradangan dan pada sistem daya tangkis. Kerjanya berlangsung melalui tiga jenis reseptor yaitu reseptor H1, H2, dan H3. Reseptor H1 secara selektif diblok oleh antihistaminika, (H1 blockers), reseptor H2 oleh penghambat asam lambung (H2 blockers). Reseptor H2 juga memegang peranan pada regulasi tonus saraf simpatikus  (Tan dan Kirana, 2007)
Aktivitas terpenting histmin adalah
1.      Kontraksi otot polos brochi, usus, dan rahim
  1. Vasodilatasi semua pembuluh dengan penurunan tekanan darah
  2. Memperbesar permeabilitas kapiler untuk cairan dan protein, dengan akibat udema dan pengembangan mukosa
  3. Hipersekresi ingus dan air mata, ludah dahak dan asam lambung
  4. Stimulasi ujung saraf dengan eritema dan gatal-gatal (Tan dan Kirana, 2007)
Dalam keadaan normal, kadar histamin dalam darah hanya rendah sekitar 50 mcg/l sehingga tidak menimbulkan efek. Baru bila mastsells dirusak membrannya sebagai akibat dari salah satu faktor, maka dibebaskanlah banyak histamin sehingga efek itu menjadi nyata. Setelah melakukan kegiatannya, kelebihan histamin diuraikan oleh enzim histaminase yang juga terdapat dalam jaringan (Tan dan Kirana, 2007).
Bila suatu protein asing (antigen) masuk berulangkali kedalam aliran darah seseorang yang memiliki “bakat” hipersensitif maka limfosit-B akan membentuk antibodi dari tipe IgE (disamping IgC dan IgM). IgE ini juga disebut sebagai reagin, mengikat diri pada membran mast cells tanpa menimbulkan gejala. Apabila kemudian antigen (alergen) yang sama atau yang mirip rumus bangunnya memasuki darah lagi, maka IgE akan mengenali dan mengikat padanya. Hasilnya adalah suatu reaksi alergi  akibat pecahnya membran mastsells (degranulasi). Sejumlah zat perantara (mediator) dilepaskan, yakni histamin bersama serotonin, bradikinin dan asam arachionat, yang kemudian diubah menjadi prostaglandin dan leukotrien). Zat-zat ini menarik makrofag dan neutropil (=leukosit tertentu ke tempat infeksi untuk memusnahkan penyerbu, selain itu juga menyebabkan beberapa yaitu brochokontriksi, vasodilatasi, dan pembengkakan jaringan sebagai reaksi terhadap masuknya antigen. Mediator tersebut secara langsung atau melalui susunan saraf otonom menimbulkan bermacam-macam penyakit alergi penting, seperti asma, rhinitis allergica, dan eksim (Tan dan Kirana, 2007).
Pada asma yang di cetus oleh alergi, Antibodies tipe IgE (Imunoglobulin type E) mengikat diri pada mastcells yait disaluran nafas, mata, dan hidung. Bilamana jumlah IgE cukup besar, maka pada waktu alergen yang identik masuk lagi ke dalam tubuh, terjadilah pengabungan antigen-antibody. Mastcells pecah (degranulasi) dan segera melepas mediatornya yaitu histamin. Akibatnya adalah brochokontriksi (bronchospasm) dengan pengembangan mukosa (udema) dan 

Reaksi Alergi dan Anafilaksis


Alergi merupakan suatu reaksi menyimpang dari tubuh seseorang, khususnya terhadap rangsangan yang disebabkan oleh suatu pemicu yang disebut alergen. Sering kali alergi yang ada hubungannya dengan sistem imun tubuh yang  bekerja secara berlebihan dan berkaitan dengan faktor keturunan. Pada umumnya, reaksi-reaksi imun melindungi tubuh terhadap alergen yang memasuki peredaran darah. Sebagian gejalanya ditunjukan untuk mengeluarkan alergen tersebut, seperti dengan bersin dan batuk. Gejala lainnya merupakan perasaan sesak di dada karena kesulitan bernapas, mata merah/ gatal, dan gatal pada kulit (Tan dan Kirana, 2010).
REAKSI ALERGI
Contoh masing- masing alergen tersebut, antara lain :
1.         Alergen inhalan : bulu hewan, tungau, debu rumah, dan jamur.
2.         Alergen ingestan : telur, susu, ikan, udang, daging babi, tomat, kopi, cokelat, kacang tanah, dan obat oral.
3.         Alergen kontaktan : tumbuhan beracun, kosmetika dan logam (perhiasan, jam tangan, dan lain sebagainya).
4.         Alergen injektan : penisilin.
       (Tan dan Kirana, 2010)
            Pollen adalah benang sari dari tanaman yang penyerbukannya dilakukan oleh angin. Sebetulnya butir-butir tepung ini merupakan sel perbanyakan benang sari dari jenis rumput dan pohon, yang terbentuk dalam jumlah besar sekali. Bila alergen adalah tepung sari, maka terjadilah alergi terhadap pollen yang juga disebut demam musiman, yaitu demam yang disebabkan oleh alergi terhadap rumput kering (Tan dan Kirana, 2010).
Demam musiman (hay fever) sebagai akibat dari penggabungan antigen-antibodi sel- sel tertentu yang berada disaluran pernapasan melepaskan zat-zat perantara (mediator), antara lain histamin, prostaglandin, dan leukotrien. Mast cells ini berfungsi menetralisasi serangan dari “penyerbuakan asing” antara lain mengusahakan untuk mengeluarkannya (bersin hebat dan mata berair). Setiap penderita demam musiman mengenal gejala-gejala ini, yang sering kali disertai radangan selaput lendir (hidung tersumbat, mata merah, rasa terbakar, biduran, gatal-gatal, dan nyeri tenggorokan) (Tan dan Kirana, 2010).
Debu rumah  merupakan salah satu penyebab alergi utama karena hampir selalu mengandung banyak tungau. Serangga transparan sebesar 0,3mm hanya dapat dilihat dengan mikroskop, hidup ditempat panas (diatas 18˚C) dan lembab (kelembapan relatif di atas 75%) misalnya dikasur, selimut dan karpet. Satu gram debu kasur dapat mengandung sampai 15.000 tungau, yang hidup dari serpihan kulit manusia dan hewan. Yang bersifat alergen adalah tinjanya yang sebagai potongan-potongan dari ± 0,002-0,010 mm dihirup dan memasuki   saluran pernapasan (Tan dan Kirana, 2010).
            Karena kebanyakan obat berbentuk senyawa dengan bobot molekul rendah, yang sebagai senyawa itu sendiri masih belum memiliki sifat antigen, timbul pertanyaan, dengan cara bagaimana obat-obat ini menimbulkan pembentukan antibodi dan dengan demikian memenuhi persyaratan untuk reaksi alergi. Berdasarkan banyak penemuan hasil eksperimen maka berlaku mekanisme berikut : bahan obat salah satu dari metabolitnya sebagai praantigen (semiantigen, hapten) berikatan secara kovalen dengan suatu makromolekul tubuh sendiri, umumnya suatu protein, membentuk antigen kompleks (antigen penuh). Terhadap antigen penuh ini dibentuk antibodi (Mutschler, 1991).
            Disini spesifikasi antibody disiapkan untuk melawan bahan obat dan tidak melawan makromolekul, ini berarti bahan obat atau suatu bagian dari bahan obat merupakan gugus penentu (kelompok yang merumuskan antibodi). Reaksi antibodi dengan gugus penentu bahan obat adalah penyebab antigenitas gugus. Disini diartikan bahwa obat-obat yang secara kimia dan farmakologi berbeda dapat menimbulkan reaksi alergi yang sama, sejauh mereka memiliki determinan (penentu) yang sama. Karena itu suatu alergi dapat berupa melawan suatu senyawa tertentu juga karena suatu reaksi alergi terhadap suatu bahan lain yang dekat hubungannya dengan senyawa asal, tanpa sebelumnya diberikan kontak dengan bahan tersebut, ini disebut alergi silang. Suatu contoh khas adalah antigenitas gugus dan demikian juga alergi silang dari senyawa-senyawa dengan gugus amino aromatik primer posisi para (prokain, p-amino asam salisilat, sulfonamide) (Mutschler, 1991).
Reaksi hipersensitivitas dibedakan atas :
1.      Jenis segera (reaksi segera)
2.      Jenis lambat (reaksi lambat) dan
3.      Bentuk-bentuk khusus
Reaksi antigen-antibodi umumnya berlangsung dengan tenang, artinya tanpa tanda-tanda luar yang dapat dikenal. Walaupun demikian, dalam kasus-kasus tertentu pada kontak dengan antigen berulang-ulang dapat terjadi reaksi berlebihan, yang merusak bagi organisme. Sejauh hal itu terjadi dalam waktu beberapa detik atau menit setelah terdedah allergen, maka disebut hipersensitif  jenis segera dan menurut reaksinya ada yang disebut reaksi anafilaktik (Mutschler, 1991).
REAKSI ANAFILAKTIK
Pada sensibilisasi dibentuk terutama immunoglobulin tipe Ig E (regain). Antibodi Ig E mempunyai kemampuan melekat pada permukaan sel mast atau granulosit basofil. Jika pada suatu kontak berikutnya, allergen yang masuk bereaksi dengan antibodi Ig E dan karena itu membentuk jembatan antara dua tempat ikatan antigen, maka ini ternyata bekerja sebagai rangsangan terhadap sel dan menyebabkan perubahan sturuktur  membran sel. Sel mengosongkan granulanya dan kemudian membebaskan mediator yang sangat aktif antar lain adalah histamin, bradikinin, serotonin, SRS- A (Slow Reacting Substance Of Anaphylaxis) dan prostaglandin. Terjadi reaksi-reaksi sekunder khas yang disebut reaksi anafilaktik khususnya vasodilatasi, gangguan ketelapan dinding kapiler atau kontraksi otot bronkhus.  Reaksi-reaksi anafilaktik dapat terjadi pada tempat-tempat terbatas (misalnya asma bronkhiale, hayfever, urtikaria, udem angioneurotik) atau menyeluruh ( misalnya setelah suntikan intravasal dengan obat atau setelah gigitan lebah atau gigitan penyengat). Pada reaksi anafilaktik menyeluruh terdapat bahaya penurunan tekanan darah  massif (syok anafilaktik) (Mutschler, 1991).

Alprazolam


Alprazolam merupakan salah satu dari golongan obat Benzodiazepines atau disebut juga Minor Transquillizer dimana golongan ini merupakan obat yang paling umum digunakan sebagai anti ansietas. Alprazolam merupakan obat anti ansietas dan anti panik yang efektif digunakan untuk mengurangi rangsangan abnormal pada otak, menghambat neurotransmitter asam gama-aminobutirat (GABA) dalam otak sehingga menyebabkan efek penenang. Alprazolam diabsorbsi dengan baik di dalam saluran pencernaan dan bekerja cepat dalam mengatasi gejala ansietas pada minggu pertama pemakaian. Alprazolam memiliki waktu paruh yang pendek yaitu 12 – 15 jam dan efek sedasi (mengantuk) lebih pendek dibanding Benzodiazepines lainnya, sehingga tidak akan terlalu mengganggu aktivitas. Alprazolam juga aman digunakan bagi penderita gangguan fungsi hati dan ginjal dengan pemakaian di bawah pengawasan dokter.

1.    Struktur Kimia


Gambar. Struktur Alprazolam
 


2.    Sifat Fisika Kimia
Nama kimia            : 8-kloro-1-metil-6-fenil-4H-triazolo[4,3-α]-benzodiazepina
Rumus molekul      : C17H13ClN4
Berat moleku          : 308,77
Pemerian                 : Serbuk hablur putih sampai hampir putih, melebur pada ±
                                 225oC
Kelarutan                : Tidak larut dalam air, sukar larut dalam etil asetat, agak
                                 sukar larut dalam aseton, larut dalam metanol, mudah larut
                                 dalam kloroform (Ditjen POM, 1995)

3.    Mekanisme Sintesis Alprazolam
4.    Nama Sediaan
              Nama sediaan dari alprazolam yang terdapat di pasaran meliputi:
-       Xanax XR                                             -   Calmlet
-       Alganax                                                 -   Feprax
-       Alprazolam OGB Dexa                         -   Frixitas
-       Alviz                                                      -   Soxietas
-       Atarax                                                    -   Zypraz
         
Bentuk sediaan yang ada dipasaran: Tablet 0,25 mg, 0,5 mg, 1 mg.

5.    Dosis
                 Ansietas : 0,25 - 0,5 mg 3 kali sehari. Max 4 mg sehari dalam dosis terbagi.  Gangguan panik : 0,5 - 1,0 mg diberikan pada malam hari atau 0,5 mg 3 kali sehari. Untuk pasien usia lanjut, debil dan gangguan fungsi hati berat : 0,25 mg 2-3 kali sehari. Jika perlu, dosis dapat ditingkatkan secara bertahap.

6.    Kegunaan
              Kegunaan obat ini terutama untuk Anti-anxietas dan anti panik. Pada saat keadaan cemas dan panik terjadi penurunan sensitivitas terhadap reseptor 5HT1A, 5HT2A/2C, meningkatnya sensitivitas discharge dari reseptor adrenergic pada saraf pusat, terutama reseptor alfa-2 katekolamin, meningkatnya aktivitas locus coereleus yang mengakibatkan teraktivasinya aksis hipotalamus-pituitari-adrenal (biasanya berespons abnormal terhadap klonidin pada pasien dengan panic disorder), meningkatnya aktivitas metabolic sehingga terjadi peningkatan laktat (biasanya sodium laktat yang kemudian diubah menjadi CO2 (hiperseansitivitas batang otak terhadap CO2), menurunnya sensitivitas reseptor GABA-A sehingga menyebabkan efek eksitatorik melalui amigdala dari thalamus melalui nucleus intraamygdaloid circuitries, model neuroanatomik memprediksikan panic attack dimediasi oleh fear network pada otak yang melibatkan amygdale, hypothalamus, dan pusat batang otak.
              Sehingga, terapi yang diberikan pada kecemasan yaitu anxiolitik atau antianxietas yang bekerja pada reseptor GABA dengan memperkuat aksi inhibitor GABA-ergic neuron sehingga hiperaktivitas mereda.

7.    Efek Farmakologi
              Farmakodinamik alprazolam merupakan derivat triazolo benzodiazepin dengan efek cepat dan sifat umum yang mirip dengan diazepam. Alprazolam merupakan anti ansietas dan anti panik yang efektif. Mekanisme kerjanya yang pasti belum diketahui. Efek tersebut diduga disebabkan oleh ikatan alprazolam dengan reseptor-reseptor spesifik yang terdapat pada susunan saraf pusat. Secara klinis, semua senyawa benzodiazepin menyebabkan depresi susunan saraf pusat yang bervariasi tergantung pada dosis yang diberikan. Farmakokinetik Pada pemberian secara oral, alprazolam diabsorpsi dengan baik dan absorpsinya tidak dipengaruhi oleh makanan sehingga dapat diminum dengan atau tanpa makanan. Konsentrasi puncak dalam darah dicapai dalam waktu 1 - 2 jam setelah pemberian oral dengan waktu paruh eliminasinya adalah 12 - 15 jam. Waktu paruh ini berbeda-beda untuk pasien usia lanjut (16,3 jam), orang dewasa sehat (11 jam), pasien dengan gangguan fungsi hati (antara 5,8 - 65,3 jam) serta pada pasien dengan masalah obesitas (9,9 - 40,4 jam). Sekitar 70 - 80% alprazolam terikat oleh protein plasma. Alprazolam mengalami metabolisme di hati menjadi metabolit aktifnya dan metabolit lainnya yang tidak aktif. Metabolit aktif ini memiliki kekuatan 1 kali dibandingkan dengan alprazolam, tetapi waktu paruh metabolit ini hampir sama dengan alprazolam. Ekskresi alprazolam sebagian besar melalui urin, sebagian melalui ASI dan dapat melalui sawar plasenta.

8.    Interaksi Obat
-       Dengan Obat Lain:
              Antifungi golongan azol, siprofloksasin, klaritromisin, diklofenak, doksisiklin, eritromisin, isoniasid, nikardipin, propofol, protease inhibitor, kuinidin, verapamil meningkatkan efek alprazolam. Kontraindikasi dengan itrakenazol dan ketokenazol. Menguatkan efek depresi SSP analgetik narkotik, etanol, barbiturat, antidepresan siklik, antihistamin, hipnotik-sedatif. Alprazolam dapat meningkatkan efek amfetamin, beta bloker tertentu, dekstrometorfan, fluoksetin, lidokain, paroksetin, risperidon, ritonavir, antidepresan trisiklik dan substrat CYP2D6 lainnya. Alprazolam meningkatkan konsentrasi plasma imipramin dan desipiramin. Aminoglutetimid, karbamasepin, nafsilin, nevirapin, fenobarbital, fenitoin menurunkan efek alprazolam.
-       Dengan Makanan:
Merokok menurunkan konsentrasi  alprazolam sampai 50 %. Jus grapefruit meningkatkan konsentrasi alprazolam. Makanan tinggi lemak, 2 jam sebelum pemberian bentuk lepas terkendali dapat memperpanjang Cmaks sampai 25 %. Sedangkan pemberian segera sesudah makan akan menurunkan Tmaks, bila makanan diberikan >=1 jam sesudah pemberian obat T maks akan meningkat     30 %.
9.    Efek Samping
              Jika kita menggunakan alprazolam kita menjadi sulit lepas dari obat ini karena memang memiliki potensi ketergantungan yang besar jika dipakai lebih dari dua minggu saja. Sulit lepas ini juga disebabkan karena efek putus zat obat ini sangat tidak nyaman, ada yang langsung tiba-tiba stop dan merasakan kecemasan yang lebih parah daripada sebelumnya.
              Maka dari itu penggunaan obat ini harus hati-hati dan kalau bisa sesuai dengan indikasi saja. Belakangan karena potensi ketergantungan, toleransi (makin besar pake makin lama) dan reaksi putus zat, obat ini sudah tidak menjadi pilihan pertama lagi sebagai obat anticemas di Amerika Serikat, di sana lebih cenderung menggunakan Antidepresan gol SSRI seperti Sertraline, Fluoxetine, Paroxetine (Paxil).
              Selain itu ESO yang ditimbulkan SSP: depresi, mengantuk, disartria (gangguan berbicara), lelah, sakit kepala, hiperresponsif, kepala terasa ringan, gangguan ingatan, sedasi; Metabolisme-endokrin: penurunan libido, gangguan menstruasi; Saluran cerna: peningkatan atau penurunan selera makan, penurunan salivasi, penurunan/peningkatan berat badan, mulut kering (xerostomia).

10.    Peringatan
              Selama menggunakan obat ini dilarang mengendarai kendaraan bermotor atau mengoperasikan mesin. Hati-hati bila diberikan pada wanita hamil dan menyusui, gangguan fungsi ginjal dan hati, riwayat penyalahgunaan obat dan atau alkohol, penderita kelainan kepribadian yang nyata. Keamanan penggunaan pada anak-anak dibawah 18 tahun belum diketahui dengan pasti. Gejala kelebihan dosis alprazolam adalah mengantuk, konfusi, gangguan koordinasi, penurunan refleks dan koma. Penanganan saat terjadi kelebihan dosis :
-       Penderita dirangsang untuk muntah dan lakukan pengosongan lambung.
-       Penderita dirawat intensif dengan terapi simtomatis dan suportif untuk memelihara fungsi kardiovaskular, pernapasan dan keseimbangan elektrolit.

Sunday, 9 December 2012

DESAIN DAN OPTIMASI SISTEM PENGHANTARAN PARTIKULAT GASTRORETENTIVE PADA OBAT RANITIDIN HIDROKLORIDA

Dalam penelitian ini, sistem microparticulate gastroretentif dari hidroklorida Ranitidine obat anti-ulkus, mampu mengapung di simulasi cairan lambung selama lebih dari 24 jam. Formula  dibuat dengan menggunakan teknik penguapan pelarut. Eudragit RL-100, polimer biokompatibel digunakan untuk membentuk mikrosfer Ranitidine HCL  menggunakan metodologi respon permukaan. Mikrosfer diuji karakterisasinya meliputi micromeritic sifat, morfologi permukaan dengan SEM dan mikroskop optik, studi kompatibilitas obat-polimer dengan FTIR dan DSC, in-vitro daya apung , persentase kadar obat dan efisiensi  serta studi obat in-vitro rilis. Studi Optimasi dilakukan dengan menggunakan RPM (kecepatan pengadukan) dan jumlah polimer sebagai variabel independen dan persentase kadar obat dan waktu yang dibutuhkan untuk melepaskan obat 90% (t90%) sebagai tanggapan menggunakan 3-tingkat desain faktorial. Mikrosfer dirumuskan bebas mengalir dan SEM menunjukkan bahwa mikrosfer yang berpori dan hampir berbentuk bulat. Formulasi microsphere siap memiliki persentase jeratan obat 83,40-85,24%, dan daya apung dari 86,42 -95,58% dengan waktu mengambang hingga 12 jam. Dalam studi-vitro pelepasan obat dari Ranitidine hidroklorida mikrosfer menunjukkan pelepasan terkontrol dari 11 jam dengan Eudragit RL-100. Data yang diperoleh dalam penelitian ini dengan demikian menunjukkan bahwa bentuk sediaan microparticulate yang mengambang sebagai anti-ulkus telah berhasil dirancang untuk memberikan pemberian obat terkendali dan bioavailabilitas dapat ditingkatkan. Sistem pengiriman obat secara oral dikendalikan rilis dapat disimpan dalam saluran cerna untuk waktu yang lama yang memiliki banyak keunggulan dibandingkan dengan formulasi konvensional. Pelepaskan obat secara terkontrol dan berkepanjangan, sehingga obat dapat diberikan secara terus-menerus ke situs penyerapan di saluran pencernaan bagian atas dan menyiratkan prediktabilitas dan reproduktifitas dalam pelepasan obat kinetika, yang berarti bahwa pelepasan obat dari ingradients dikendalikan pelepasan obat-hasil sistem pengiriman pada profil tingkat yang tidak dapat diprediksi kinetik, tetapi juga direproduksi dari satu 1 unit ke unit lain. Obat yang mudah diserap dari GIT dan memiliki t 1/2 dieliminasi dengan cepat dari sirkulasi sistemik. Sering dosis obat ini diperlukan untuk mencapai sesuai terapi aktivitas. Untuk menghindari keterbatasan ini, perkembangan oral berkelanjutan yang dikendalikan formulasi rilis adalah upaya untuk melepaskan obat perlahan ke GIT dan menjaga obat yang efektif. Konsentrasi dalam sirkulasi sistemik untuk waktu yang lama. Salah satu paling layak pendekatan untuk mencapai berkepanjangan dan dapat diprediksi pemberian obat pada saluran GI adalah untuk mengontrol GRT, yaitu dikendalikan melepaskan sediaan gastro kuat. Sistem gastroretentif dapat tetap di daerah lambung selama beberapa jam dan karenanya signifikan memperpanjang waktu tinggal lambung obat. Seperti retensi sistem penting untuk obat yang terdegradasi dalam usus atau untuk obat-obatan seperti antasida atau antibiotik tertentu, enzim yang harus bertindak secara lokal di perut 4,5. Ulkus peptikum adalah salah satu yang paling umum penyakit kronis di dunia, yang merupakan gangguan dari atas gastro intestinal saluran. Seluruh dunia menerima terapi penyakit lambung didasarkan pada reseptor H2 histamin. Hidroklorida ranitidin adalah anti-ulkus obat dan bekerja pada reseptor H2-terutama di perut. Itu penyerapan wilayah utama obat ini adalah perut. Karena itu adalah suatu antiulcer obat, maka akan bermanfaat untuk mempertahankan obat di daerah lambung. Pendek paruh biologis hidroklorida ranitidin dan rendah dosis obat juga membuat calon yang cocok untuk rilis berkelanjutan sediaan 6. Sistem pemberian obat mengambang juga disebut hidrodinamis seimbang system (HBS). Floating drug delivery sistem (FDD) memiliki kepadatan bulk kurang dari cairan lambung dan sebagainya tetap apung di perut tanpa mempengaruhi pengosongan lambung Tingkat untuk jangka waktu lama. Sementara sistem mengambang di isi lambung, obat dilepaskan perlahan-lahan pada tingkat yang diinginkan dari sistem. Setelah pelepasan obat, sistem residu dikosongkan dari perut. Hasil ini merupakan GRT meningkat dan kontrol yang lebih baik dari fluktuasi konsentrasi obat plasma. Ini sistem pengiriman dibagi lagi menjadi ke noneffervescent dan effervescent (gas-menghasilkan sistem) 7, 8. Mikrosfer mengambang gastro-dpt menyimpan sistem pengiriman obat berdasarkan non-effervescent Pendekatan. Gastro-dpt menyimpan mikrosfer mengambang rendah-density sistem yang memiliki daya apung yang cukup untuk mengapung di atas konten lambung dan tetap dalam perut untuk jangka waktu lama. Obat dirilis perlahan-lahan pada tingkat yang diinginkan mengakibatkan retensi lambung meningkat dengan mengurangi fluktuasi konsentrasi obat, plasma 9 10. Mikrosfer adalah sistem pengiriman multi-partikel di mana obat ini encapsulated dalam polimer untuk memberikan obat ke situs target dengan spesifisitas tanpa efek tak diinginkan. Padat biodegradable mikrosfer menggabungkan obat didispersikan atau dilarutkan seluruh matriks partikel memiliki potensi untuk dikendalikan melepaskan obat 11, 12. Tujuan dari penelitian ini melibatkan desain dan optimalisasi mikrosfer pelepasan berkelanjutan Ranitidine hidroklorida sebagai model obat untuk memperpanjang waktu tinggal lambung. tobe cont....